Pengurangan Waktu Kerja: Kesejahteraan Bukan dari Upah!

th

Dalam beberapa kesempatan diskusi dengan beberapa kawan terkait gagasan pengurangan waktu kerja, saya mencatat beberapa pertanyaan yang dapat dikatakan seperti ini:

Asumsikan saja bahwa pengurangan waktu kerja berhasil dilakukan, dimana jumlah shift yang ada pada tempat kerja dimutilasi sehingga jumlahnya bertambah, dan akan menjadi lapangan pekerjaan baru bagi pengangguran. Dalam jangka waktu sementara, upah akan meningkat karena perusahaan lah yang membutuhkan pekerja baru untuk mengisi shift yang ada.

Tapi bukankah upah berhubungan dengan jumlah waktu kerja yang dieksploitasi? Karena keduanya adalah dua sisi keseimbangan yang saling melengkapi. Bisa saja setelah masa-masa sementara itu perusahaan (kapital) membayar pekerja dengan upah yang tidak lebih banyak dari upah sebelumnya. Jika iya, bukankah kemungkinan pekerja akan tetap menderita karena memiliki gaji yang sama seperti sebelumnya?

Pertanyaan ini adalah bentuk kegelisahan atas ketidakpastian nasib yang menanti jika pengurangan waktu kerja sebagai gagasan terealisasi. Selain itu pertanyaan ini adalah pernyataan dalam bentuk berbeda untuk menggambarkan bahwa upaya apapun yang dilakukan untuk memotong keuntungan kapital, termasuk mengurangi waktu kerja, semuanya akan sama saja (sia-sia) dalam kacamata tuntutan upah.

Tentu saja dalam kacamata penggila tuntutan upah, upaya mengurangi waktu kerja akan selalu sia-sia, karena mereka mengukur kesejahteraan dengan jumlah tinggi-rendahnya upah yang diberikan oleh pemodal (kapital).

Pertama, saya ingin mengatakan sesuatu dengan tegas, bahwa kita semua tidak dapat mempertimbangkan kenaikkan jumlah upah minimum dengan konteks jumlah pekerjaan yang ada sebagai standar untuk menentukan tingkat kesejahteraan masing-masing dari kita sebagai pekerja. Tujuan untuk menaikkan upah minimum ‘demi kesejahteraan’ ini dipenuhi ilusi dan halusinasi akut yang ‘bertentangan dengan kenyataan’ yang dihadapi berupa sistem ekonomi eksploitatif: kapitalisme. Kita tidak bisa memakai ‘standar kesejateraan’ ala upah untuk memutuskan nasib gerakan kita. Karena ketika kita memakai tuntutan upah lebih tinggi sebagai standar dari kesejahteraan, maka kita tengah menyetujui bahwa kebutuhan hidup manusia hari ini ditentukan pada penjualan tenaga kerja (perbudakan upah).

Memang secara riil itu tengah terjadi, tetapi apa gunanya organisasi dan tetek bengek slogan revolusioner jika tidak mampu keluar dari logika tersebut? Ironisnya lagi, gerakan pekerja hari ini masih terjebak dalam logika upah dimana mereka percaya bahwa upah yang memadai dapat menentukan kecukupan dari kebutuhan hidup mereka.

Bagaimana bisa kebutuhan hidup kita tercukupi dalam sistem perbudakan upah yang bertujuan untuk menguntungkan segelintir orang saja (kelas pengusaha)? Secara lebih jauh: Bagaimana bisa bayaran upah kerja kita lebih tinggi dari nilai semua produk (komoditas) yang dicuri oleh kapital (kelas pengusaha) dari tangan kita? Karena sistem ekonomi kita hari ini (kapitalisme) adalah sistem yang dikuasai segelintir orang, dan hanya berjalan untuk memberikan keuntungan (nilai lebih) untuk segelintir orang tersebut, lebih jelasnya mari tanyakan lagi: Bagaimana bisa jumlah upah kerja kita lebih tinggi dari keuntungan perusahaan (kapital) yang memperbudak diri kita (kelas pekerja)?

Logika upah sebagai kesejahteraan adalah logika tanpa dasar!

Yang kedua, saya akan berbicara bahwa ketika waktu kerja dikurangi, dan upah akan naik karena jumlah shift bertambah, tingkat keuntungan perusahaan/kapitalis bukanlah urusan kita. Kita bisa memiliki asumsi bahwa di Indonesia ini, dimana masih banyak perusahaan yang mengupah pekerjanya dibawah upah minimum sebagai cara mereka agar tetap menghasilkan keuntungan, akan segera merugi jika pengurangan waktu kerja terjadi. Tapi ini bukan suatu hal yang pokok dalam tujuan kita.

Justru lebih lanjutnya, memang saya menyerukan untuk tetap tidak peduli pada bisnis yang bangkrut dimana-mana karena upah yang kian meninggi jika pengurangan waktu kerja berhasil diupayakan.

Lalu apa tujuan yang mesti menjadi perhatian kita?

Sederhana. Selama ini kita mengetahui bahwa pengangguran adalah pekerja cadangan yang dipakai untuk menyokong sistem perbudakan upah dengan harga yang murah. Ini akan sangat terlihat apabila krisis tengah melanda kapitalisme. Semakin banyak pengangguran yang berdampingan dengan jumlah populasi yang bekerja, maka semakin murah upah yang dibayarkan untuk orang-orang yang bekerja. Poin yang ingin saya tekankan bukanlah pada harga murah sebagai jumlah dari upah yang dibayarkan pada kita sebagai pekerja, melainkan dengan melakukan pengurangan waktu kerja, jumlah pekerja di seluruh dunia akan meningkat dengan drastis seiring dengan dipotongnya jumlah waktu kerja untuk masing-masing individu-pekerja.

Sehingga dengan bertambahnya jumlah pekerja diseluruh dunia, bukan hanya dapat mengurangi jumlah pekerja cadangan dan meningkatkan upah bagi kelas pekerja, tetapi selain itu, dengan dipotongnya waktu kerja yang ada, kelas pekerja dapat melihat kekuatan sosial(is) dalam diri mereka, dimana jumlah mereka bertambah seiring dengan berkurangnya waktu kerja (baca: waktu bersaing) yang ada dalam hari-hari mereka. Jumlah mereka (kuantitas kelas pekerja) akan terus bertambah dan berlipat ganda seiring dengan dilakukannya gelombang-gelombang pengurangan waktu kerja. Disisi lainnya, pengurangan waktu kerja akan berdampak pada berubahnya bentuk persaingan diantara kelas pekerja yang secara individu memiliki lebih banyak waktu luang (waktu tanpa kerja upahan).

Ini adalah bentuk transformasi dari perubahan kuantitas menjadi perubahan kualitas. Ketika jumlah pekerja sangat banyak berlipat ganda dan saatnya waktu kerja berkurang menjadi 0 jam. Maka, kelas pekerja itu sendiri akan menghilang setelahnya dan persaingan akan berubah bentuknya bukan lagi berdasar pada standar kerja upahan, karena kerja upahan sudah tidak dibutuhkan (0 jam).

Standar upah bukanlah sebagai tolok ukur kesejahteraan!

Advertisements

One thought on “Pengurangan Waktu Kerja: Kesejahteraan Bukan dari Upah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s